Nama : Arnold Brahmana
Hardi Elcana Gurning
Sulastri Putri
Tingkat/Jurusan : I-D/ Teologi
Mata
Kuliah : Metodologi
Penelitian Teologi
Dosen Pengampu :
Dr. Deddy Fajar Purba
BERTEOLOGI/KONSTRUKSI
TEOLOGI PADA MASA PARA RASUL
I. Pendahuluan
Teologi ialah
suatu bidang disiplin ilmu yang membicarakan, membahas, menganalisa, dan
menafsir bagaimana Allah, dan apa karya-Nya. Seiring dengan itu, kehadiran
teologi dari dahulu sampai saat ini banyak mengalami perubahan, perkembangan,
konsepsi yang meluas, bahkan termasuk kedalam sisi doktrin ataupun dogmatisnya.
Dalam berteologi, disadari bahwa harus ada sesuatu konsep berpikir yang utuh,
atau kita sebut sebagai konstruksi pemikiran yang didefinisikan sebagai objek
keseluruhan konsep yang terdiri dari bagian-bagian struktur. Dalam memahami
sebuah konstruksi biasanya dilakukan sebuah perencanaan terpadu dan pengenalan
yang tepat agar mampu mengerti dalam menghayati dari apa yang kita sebut dengan
konsepsi, terkhusus dalam hal ini yakni teologi sebagai bidang ilmu yang kini
sedang kita bicarakan. Berikut akan kami paparkan penjelasan tentang bagaimana
berteologi pada masa Rasul lewat refrensi yang kami diskusikan bersama. Besar
harapan kami sajian ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
II. Pembahasan
2.1. Bagaimana
Cara Berteologi?
Dari
sini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya berteologi itu tidak mudah. Bukan
hanya asal berbicara saja, lantas dibilang berteologi! Definisi berteologi
adalah bahasa Gereja tentang Allah untuk menguji dan mencapai kemurnian serta
kesetiaannya kepada Firman Allah di tengah-tengah bahasa, pikiran dan konteks
budaya yang berubah. Jadi, tujuan
berteologi ialah untuk menguji dan mencapai apa yang disebut kemurnian hati dan
kesetiaan Gereja dan kepada firman Allah. Selain itu, harus disadari pula bahwa
teologi memiliki sifat yaitu pengetahuan yang adikodrati dan dibangun
berdasarkan penyataan/ Firman Allah. Maka
teologi yang sejati haruslah teologi dari Alkitab, bukan teologi tentang
Alkitab, apalagi teologi di luar Alkitab.[1]
2.2 Tujuan
Berteologi
Setiap
perubahan arah dalam teologi harus dinilai berdasarkan amanat. Dalam hal itu,
teologi seharusnya bertujuan memuliakan Allah.
Misalnya, ketetapan Allah dalam Shema[2]
(Ul. 6:4-9) berlaku pula bagi para filsuf dan teolog, yaitu kita harus
mengasihi Tuhan Allah dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan. Tugas
para teolog dalam membentuk mental umat dapat kita bandingkan dengan tugas
setiap kepala keluarga Israel dalam mendidik anak mereka. Dalam hal itu, para
teolog bertugas membentuk kaum Kristen untuk tidak ikut-ikutan pada agenda sekuler, tetapi bergantung
kepada Allah dalam seluruh hidupnya.
Namun,
kegiatan teologis kini sudah jauh dari tujuan yang sebenarnya. Yang direnungkan
kini bukan lagi sabda Allah, melainkan pemikiran para “Bapak” atau tokoh.
Padahal, kebanyakan “Bapak” atau tokoh tersebut tergolong humanis, bukan teis.
Situasi itu sangat merugikan Gereja karena gereja memerlukan penjelasan murni teologis
yang tepat dan benar. Dalam hal itu, apa pun yang berdasarkan humanisme tidak
memiliki metafisika ataupun epistomologi yang tepat. Dengan demikian, “teolog-teolog
sumbang” itu tidak akan sanggup memberikan pengarahan yang seharusnya dibutuhkan.[3]
2.3. Pengertian Teologi dan Pemahamannya
Dalam
gereja Kristen, teologi mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah,
kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran
dan praktik Kristen.
Dalam upaya merumuskan apa itu ilmu teologi,
maka ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan, yaitu tidak akan ada teologi
Kristen tanpa keyakinan bahwa Allah bertindak atau berfirman
secara khusus dalam Yesus Kristus
yang menggenapi perjanjian dengan umat Israel.
Kata 'teologi' berasal dari bahasa
Yunani koine,
tetapi lambat laun memperoleh makna yang baru ketika kata itu diambil dalam
bentuk Yunani maupun Latinnya oleh
para penulis Kristen.
Karena itu, penggunaan kata ini, khususnya di Barat, mempunyai latar belakang
Kristen. Namun, pada masa kini istilah tersebut dapat digunakan untuk wacana
yang berdasarkan nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di
lingkungan agama Kristen sendiri, disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali
sub-divisinya.[4]
Istilah
“teologi” atau Theologia berasal dari
bahasa Yunani yang arti katanya ialah ilmu (logos)
tentang Allah (Theos). Menurut makna
etimologis, arti teologi bisa sempit
dan bisa luas. Secara sempit, teologi bararti “ajaran tentang Allah”; sedangkan
secara luas, teologi berarti “keseluruhan ajaran kristen”.
Namun
untuk memahami lebih dalam apa yang dimaksud dengan istilah Teologi dalam
lingkungan Kristen, makna etimologis tidaklah cukup. Di sinilah muncul dua
kesalahan: (1) hanya menekankan bahasa/
ilmu (logos)-nya saja dan (2)
hanya menekankan pernyataan Allah (Theos)-nya saja. Sementara itu yang
benar adalah bahasa dan pernyataan Allah harus ditekankan serentak: TEOLOGI!
Kurang atau lebih dari itu adalah keliru! Sebab jika hanya menekankan (logos)-nya saja maka kita dapat terjebak
untuk menempatkan “konteks” (baca: kebudayaan) di atas teks (baca: penyataan Allah/Alkitab) dan menekankan imanensi[5]
Allah saja. Sebaliknya, jika hanya menekankan (Theos)-nya saja maka kita dapat terjebak untuk menempatkan “teks” di luar konteks dan menekankan transendensi[6]
Allah saja. Padahal yang benar ialah bahwa Allah itu transenden (baca:
berinkarnasi/menjadi manusia di dalam Yesus). Hal itu berarti, teks harus
ditempatkan di dalam konteks. Di sinilah letak kepentingan Kontekstualisasi (BENTUK dan bukan isi
Injil yang disesuaikan dengan konteks pendengar).[7]
Pada dasarnya, terang ilahi didalam Alkitab menyoroti hakikat manusia dan
situasi yang dihadapinya. Terang ilahi tersebut memperkenalkan kita kepada sang
pencipta, dan memberikan pengertian tentang karya Allah sebagai penyelamat.
Manusia diperkenalkan kepada Allah dan kepada dirinya sendiri. Teologi yang
berbobot merupakan dasar dari pembaruan mental yang memungkinkan umat Allah
melewati liku-liku kehidupan di dunia
yang abnormal ini.[8]
2.4. Sejarah
singkat Perkembangan Teologi Kristen
Banyak
tokoh gereja yang mula-mula adalah seorang filsuf, yaitu mereka yang menemukan
kebenaran yang didambakan dalam Yesus Kristus setelah menempuh jalan pemikiran
yang berliku-liku. Karya Yesus adalah terminal perenungan filsafat mereka,
mereka menganggap dirinya seorang filsafat. Pada awal abad ke-4 dua tokoh
gereja yang bernama Agustinus dan Anselmus tidak membedakan filsafat dengan
Teologi. Pendapat mereka dapat dibenarkan karena pada dasarnya, Teologi
memikirkan ke-Tuhanan berdasarkan sistematika dan logika berpikir yang biasa
dilakukan dalam filsafat. Dalam hal itu, kedua bidang itu memakai pola pikir
yang sama sekalipun atas sumber yang berbeda. Pada abad ke-20, Herman
Dooyeweerd mengemukakan pertalian yang lebih erat lagi. Ia memakai pendekatan
filosofis, tetapi ia menyimpulkan bahwa tidak mungkin sesuatu disimpulkan
sampai tuntas, kecuali atas dasar firman Allah. Alasannya adalah bahwa tidak
seorangpun dapat dimengerti manusia seutuhnya, kecuali berdasarkan suatu “motif religius”. Alasan yang kedua,
dari semua motif agamawi yang dapat dipakai, hanya Alkitab yang terbebas dari dualisme. Oleh sebab itu, hanya
Alkitab yang mampu memberi simpulan yang tuntas dan mutlak.[9]
2.5. Apa dan Siapakah Rasul
Rasul
dalam bahasa Yunani ialah Apostolos,
yang berarti orang yang diutus dan
menyandang wibawa pengutusnya. Dalam PB, rasul-rasul menyaksikan pesan
Yesus dan melanjutkan pekerjaan-Nya. Keduabelas murid dalam Injil-injil disebut
‘rasul-rasul’ oleh Lukas (6:13; 22:14 ; Kis.1:2), agaknya juga oleh Paulus (1 Kor.
5:7), dan hanya sekali masing-masing oleh Matius dan Markus (Mat.10:2 ; Mrk.
6:30). Meskipun nama-namnya sedikit berbeda-beda, jumlahnya selalu 12,
menandakan bahwa mereka adalah para pemimpin yang terpilih, berkaitan dengan
keduabelas suku Israel.
Disamping
itu, dalam Efesus 4, Paulus membahas beberapa golongan tenaga ahli (rohaniwan)
yang disediakan oleh Allah demi keperluan gereja yaitu hanya ada empat
golongan, salah satu diantaranya ialah rasul. Sebagaimana dijelaskan, rasul
bertugas untuk melayani diluar jemaat, yaitu mengungkapkan berita Injil dalam
bentuk yang dapat dimengerti oleh bangsa-bangsa yang belum mengenal Allah di
dalam Yesus. Hasil pelayanan seorang rasul adalah jemaat-jemaat baru.[10]
Penghianatan kepada Yesus oleh Yudas
menyebabkan ada lowongan dalam jumlahnya, sehingga Matius dipilih untuk
mengisinya. Kematian rasul-rasul berikutnya tidak menyebabkan lowongan, karena
dalam pandangan Lukas rasul-rasul itu unik. Namun, jabatan itu kemudian
diperluas, termasuk Paulus, yang mengaku
bahwa gelar kerasulannya didasarkan pada penglihatannya atas Kristus yang telah
bangkit (1 Kor. 15:8) dan pengutusannya kepada orang-orang bukan Yahudi. Nama-nama
keduabelas rasul itu adalah: Simon Petrus, Yakobus, Yohanes, Andreas, Filipus,
Bartolomeus, Matius, Thomas, Yakobus, Tadeus, Simon orang Kanaan atau Zelotes,
dan Yudas Iskariot yang sesudahnya digantikan oleh Matias.[11]
2.6. Konstruksi Teologi Para Rasul
Berikut
ialah beberapa pandangan dan konsepsi teologi dari Rasul yang mempunyai nama
besar, yakni :
a. Rasul
Paulus
Secara umum diketahui bahwa Paulus
hidup di dalam percampuran budaya yang sangat kental. Pada satu sisi ia berasal
dari daerah Tarsus yang sejak pendudukan Alexander Agung
sekitar abad ke 4 sM telah didominasi oleh kebudayaan Yunani. Tapi pada sisi
lain Paulus dididik dalam keluarga yang sangat kuat memegang adat istiadat
Yahudi. Paulus sendiri selalu mengatakan dirinya sebagai bagian dari
umat Israel (Lih. Roma 9-11) dan dalam beberapa hal masih menjunjung
tinggi warisan ke-Yahudian seperti yang tampak dalam surat-suratnya.[12]
Teologi Paulus secara hakiki
bersifat eskatologis. Pernyataan ini ada benarnya karena di dalam
semua surat tulisan Paulus tergambar dengan jelas ide-ide eskatologi
itu. Dan uniknya, permasalahan yang dihadapi oleh jemaat selalu dijawab oleh
Paulus dengan mengacu pada gagasan eskatologi. Singkatnya, Paulus
memperkenalkan gagasan eskatologinya dalam bingkai sejarah dan pengalaman hidup
yang sedang dijalani oleh jemaat. Jika dilihat
sepintas, surat Galatia, Korintus maupun Roma seakan hanya berisi
dogma atau ajaran-ajaran tertentu tentang hukum taurat, pembenaran karena iman,
keberadaan di dalam Kristus dan lain sebagainya yang tidak bersangkutan
langsung dengan masalah eskatologi. Tetapi sekonyong-konyong Paulus berbalik arah
dan pernyataan eskatologinya dimunculkan kembali.[13]
Misalnya surat 1
Korintus yang mencatat peraturan tentang perkawinan dan hidup selibat
sebenarnya secara terselubung juga mencetuskan gagasan eskatologi. Dengan
pertimbangan bahwa “..waktu yang ada sekarang ini sangat singkat” dan pemikiran
bahwa “dunia yang kita kenal sekarang akan berlalu..” (1 Kor. 7:26, 31),
Paulus menasihati agar semua orang tetap hidup dalam keadaan semula seperti
ketika Tuhan memanggil mereka (1 Kor. 7:17). Orang percaya diingatkan
bahwa mereka adalah “….generasi yang hidup pada waktu jaman akhir telah tiba”
(1 Kor. 10:11). Kelak akan datang suatu jaman baru dan setiap orang akan
berhadapan dengan tahta pengadilan Allah di mana segala sesuatunya akan diuji
oleh api (1 Kor. 3:13-15). Oleh karena itu orang percaya diminta untuk
memberi perhatian pada masalah-masalah rohani yang dalam hal ini menyangkut
pengekangan terhadap keinginan daging. Menurut Paulus hawa nafsu itu bisa
dikendalikan melalui lembaga perkawinan.
Gagasan
eskatologi juga diekspresikan dalam surat Roma ketika Paulus
menggambarkan bahwa “…semua ciptaan menantikan saat di mana anak-anak Allah
dinyatakan” (Roma 8:19). Ia juga menegaskan bahwa keselamatan itu sudah
lebih dekat daripada waktu dia dan orang-orang sejamannnya mengaku percaya
kepada Kristus (Roma 13:12), yakni saat di mana “..keadaan siang yang
menggantikan malam kini telah tiba”. Dengan demikian Allah akan segera
menghancurkan setan di bawah telapak kaki orang percaya (Roma 16:20).
Jadi, konsep keselamatan dihubungkan dengan peristiwa pembinasaan terhadap
kuasa kegelapan.
Dari
sini jelas bahwa dalam seluruh pemberitaannya, Paulus berdiri sebagai penerus
gagasan eskatologi. Ia menindaklanjuti ide-ide yang berasal dari PL, Apokaliptik
dan Yesus. Tetapi Paulus tidak mengambil gagasan itu dengan seenaknya sebab ia
mengolahnya lebih lanjut sehingga dapat dimengerti oleh jemaat yang
kepadanya surat itu dikirimkan.[14]
Ada beberapa kesimpulan yang
bisa diambil dari gagasan eskatologi Paulus, antara lain :
1.
Pemahaman Paulus tentang eskatologi selalu dibuat berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi
oleh jemaat. Dengan kata lain, Paulus membungkus gagasannya di dalam konteks
pemikiran jemaat tertentu.
2.
Gagasan eskatologi Paulus tidak berdiri sendiri, artinya ia mengambil alih dan
mengolah pemikiran-pemikiran yang berkembang di jamannya maupun pada jaman
sebelumnya. Oleh karena itu tidak ada gagasan yang murni sebagai pikiran
Paulus.
3.
Gagasan eskatologi Paulus berfokus pada diri dan peristiwa yang melingkupi
kehidupan Yesus. Jadi, suatu eskatologi yang bersifat Kristologis. Dengan
gagasan utama pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, maka Paulus tampil
sebagai teolog yang membangun teologi yang Kristosentris. Berdasarkan semua
pemikiran itu, Paulus menyatakan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus,
keselamatan dan Kerajaan Allah sudah dialami oleh orang percaya. Hal ini
memberi keyakinan kepada orang percaya bahwa tidak ada satupun masalah yang
menakutkan mereka. Bahkan kematianpun bukan lagi sebagai sesuatu yang
menakutkan karena :”..tidak ada satupun kuasa yang bisa memisahkan kita dari
kasih Tuhan”
4.
Setiap orang yang mati di dalam Kristus, walaupun belum mengalami Parousia Yesus,
telah mengalami kebangkitan bersama dengan Kristus, berpartisipasi di dalamnya
karena adanya kebangkitan Yesus.
5.
Dalam perkembangan selanjutnya, gagasan eskatologi Paulus mengalami
perkembangan dan perubahan makna. Artinya konteks eskatologi yang sebenarnya
menawarkan suatu penghiburan dan ketentraman di hati orang percaya telah
dipersempit. Ia hanya diartikan sebagai ide yang berbicara tentang akhir dunia
dan cenderung menakutkan. Peristiwa kedatangan Tuhan bermakna penghukuman saja
dan diperhitungkan menurut pertimbangan manusia. Padahal kedatangan-Nya juga
membawa keselamatan dan masalah waktu kedatangan-Nya tidak perlu diukur karena
tidak ada yang mengetahuinya, kecuali “…Bapa di Surga”.[15]
b. Rasul Petrus
Rasul Petrus adalah putra dari Yunus
(Mat. 16:17) atau Yohanes (Yoh. 1:42), dan saudara dari Andreas (Yoh.1:40). Ia
berasal dari Betsaida (Yoh.1:44) tetapi kemudian pindah ke Kapernaum (Mrk.
1:21,29). Petrus tadinya bekerja sebagai seorang nelayan (Luk.5:1-11). Pada
awal pelayanannya, Yesus memanggil Petrus untuk diselamatkan (Yoh.1:42), dan
sekitar setahun kemudian Ia memanggilnya untuk menjadi seorang rasul (Mat.
10:1-2). Sebagai salah seorang dari Kedua Belas Rasul, Petrus diberikan
otoritas kerasulan untuk melakukan berbagai mujijat, untuk meneguhkan berita
Mesianik. Petrus juga merupakan salah satu dari tiga orang pilihan, bersama
Yakobus dan Yohanes. (Mat.17:1). Petrus adalah “sokoguru Jemaat” (Gal.2:9) dan
kemudian menjadi pemimpin gereja. Petrus juga merupakan Rasul bagi orang Yahudi
yang juga tercermin dari pembicaraannya dan dalam suratnya yang pertama
(1Pet.1:1). Salah satu tradisi mengusulkan bahwa Petrus pada akhirnya pergi ke
Roma, tetapi hal itu tidak pasti.[16]
Teologi Petrus jelas sekali berpusat
pada Kristus dan dalam penekanannya, ia membahas secara mendalam
doktrin-doktrin penting yang berkaitan dengan Pribadi Kristus. Ia menyatakan
ketidakberdosaan Kristus, korban perdamaian Kristus sebagai substitusi,
kebangkitan-Nya dan kemulian-Nya. Petrus banyak sekali berbicara tentang penderitaan,
Kristus yang direndahkan dan penolakan akan Kristus.[17]
c. Yohanes
Sumber untuk studi teologi Yohanes, adalah Injil
Yohanes, ketiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Meskipun ada pendekatan lain
sebagai alternatif untuk mempelajari teologi Yohanes, namun studi ini akan
digabungkan dengan pengajaran Yesus yang dicatat di Injil Yohanes demikian pula
tulisan Yohanes sendiri secara khusus. Diasumsikan bahwa pengajaran Tuhan yang
dicatat oleh Yohanes dapat dipertimbangkan sebagai teologi Yohanes karena
Yohanes mencatat pernyataan Yesus, dengan anggapan semua itu bagian dari suatu
penekanan yang penting dari Yohanes.[18]
Teologi Yohanes berpusat pada Pribadi
Kristus dan wahyu Allah yang diberikan melaui kedatangan Yesus Kristus. Pribadi
yang bersama Allah sejak kekekalan sekarang menjadi manusia, dan Yohanes
memberitakan kemuliaan-Nya. Wahyu tentang terang inilah yang dijabarkan Yohanes
dalam Injilnya, surat-suratnya dan kitab Wahyu. Yohanes memberikan sebuah
ringkasan dari teologinya di pendahuluan injilnya (Yoh. 1:1-18), dimana
didalamnya ia menjabarkan wahyu tentang hidup dan terang melaui Sang Putra dan
juga menjabarkan dosa yang menggelapi dunia dan menolak terang itu.[19]
d.
Matius
Matius ialah seorang diantara duabelas rasul (Mrk. 3:18) yang
dipanggil mengikut Yesus pada waktu ia duduk dirumah cukai (Mat. 9:9).
Penekanan teologi oleh Matius dalam Injil Matius menjadi kesayangan Gereja,
karena paling banyak dibaca. Namun, alasan yang lebih tegas ialah karena Matius
dianggap sangat menekankan hal-hal pastoral dan pengajaran lebih daripada
sekadar teologis.[20] Matius menangkap pengharapan Mesianik dan ekspektasi orang Yahudi.
Ia memberikan petunjuk kepada pembacanya bahwa manusia sejati, Anak Daud, benar
telah datang. Sementara penulis lain meyajikan Yesus sebagai Mesias yang
dijanjikan, maka Matius yang menyajikan Dia untuk orang Yahudi. Tujuan Injil
Matius ada dua segi, yakni (1) Membuktikan
bahwa Yesus adalah Mesias, (2) Menyajikan kerajaan sesuai dengan rencana Allah.
Matius dikenal sebagai salah satu
dari 12 murid Yesus yang terkenal. Sebagai murid Yesus, ia tentu saja akan
terbiasa atau setidaknya tidak akan sembarangan menggunakan Perjanjian Lama. Matius
ingin membuktikan kepada orang Yahudi bahwa Yesus Kristus itu Mesias yang
dijanjikan. Berbeda dengan Injil lainnya, Matius mengutip nubuat-nubuat dari
Perjanjian Lama untuk menyatakan Yesus sebagai penggenapan nubuat para nabi
Yahudi. Matius menggambarkan secara detil silsilah turun-temurun dari
Daud sampai kepada Yesus. Ia menggunakan tata bahasa dan istilah yang dipahami
oleh orang Yahudi. Kasih dan keprihatinan Matius pada kaumnya sendiri bisa kita
lihat secara jelas dari cara ia mengisahkan.[21]
III. Kesimpulan
Berteologi
bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan teologi yang sejati harus dipahami sebagai
keutuhan yang tepat, yakni yang berada didalam
Alkitab, bukan membicarakan tentang
Alkitab atau bahkan diluar Alkitab.
Teologi juga merupakan sebuah kemurnian hati dan jawaban kesetiaan kepada
Tuhan.
Teologi
mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah,
kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran
dan praktik Kristen.
Dalam upaya merumuskan apa itu ilmu teologi,
maka ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan, yaitu tidak akan ada teologi
Kristen tanpa keyakinan bahwa Allah bertindak atau berfirman
secara khusus dalam Yesus Kristus
yang menggenapi perjanjian dengan umat Israel.
Namun perlu disadari, bahwa kewibawaan para rasul yang telah melanjutkan Kabar
Baik adalah sebuah pencapaian yang patut diakui. Struktur dan konstruksi yang
ada pada setiap Rasul memang terkesan berbeda-beda, namun pada dasarnya apa
yang mereka alami ialah bagian dari sebuah pemikiran mereka yang dihayati lewat
pengenalan akan Yesus Kristus.
IV.
Daftar Pustaka
Sumber
Buku:
Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2015)
Drewes, B.F., Julianus Mojau, Apa itu Teologi?, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2003)
Heath, W. Stanley, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung:
Yayasan Kalam Hidup, 2005)
Hunter, A.M., Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2002)
Indra, Ichwei G., Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga
Literatur Baptis, 2010)
Jacobs, Tom, Paulus : Hidup, Karya dan
Teologinya, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1992)
Ziesler,
John, Pauline Christianity, (Oxford : Oxford University Press, 1990)
Sumber
Internet:
https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_62.html
diakses pada tanggal 11 Februari 2017, pukul 14.35 WIB
https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_66.html
diakses pada tanggal 11 Februari 2017, pukul 14.48 WIB
https://www.gotquestions.org/Indonesia/kitab-injil-Matius.html
diakses pada tanggal 13 Februari 2017 pukul 08.22 WIB
[1] Ichwei G. Indra,
Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010), 10
[2]
Shema
Yisrael (atau Sh'ma Yisroel atau Shema) (bahasa Ibrani: שְׁמַע יִשְׂרָאֵל;
"Dengarlah, hai orang Israel!") adalah dua kata pertama dari sebuah
juz/ayat dari Taurat yang
digunakan sebagai bagian utama dari Doa Yahudi malam
dan pagi, Shema Yisrael dipandang sebagai doa yang paling penting di dalam agama Yahudi dan
penyebutannya dua kali dalam sehari adalah sebuah mitzvah (perintah rohani). Inti utama dalam ayat tersebut
adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati, kekuatan serta hadiah yang muncul
atas perbuatan itu.
[3] W. Stanley
Heath, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 29-30
[7] Ichwei G. Indra,
Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010), 9-10
[8] W. Stanley
Heath, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 29
[9] W. Stanley
Heath, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 13-14
[11] W.R.F. Browning,
Kamus Alkitab, (Jakarta: Bpk GM, 2015), 380-381
[17] https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_62.html
diakses pada tanggal 11
Februari 2017, pukul 14.35 WIB
[19]
https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_66.html
diakses pada tanggal 11
Februari 2017, pukul 14.48 WIB
[21]
https://www.gotquestions.org/Indonesia/kitab-injil-Matius.html
diakses pada tanggal 13 Februari 2017 pukul 08.22 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar