Jumat, 26 Januari 2018

Berteologi

Nama                          : Arnold Brahmana
                                      Hardi Elcana Gurning
                                      Sulastri Putri
Tingkat/Jurusan        : I-D/ Teologi
Mata Kuliah              : Metodologi Penelitian Teologi
Dosen  Pengampu      : Dr. Deddy Fajar Purba
BERTEOLOGI/KONSTRUKSI TEOLOGI PADA MASA PARA RASUL
I.          Pendahuluan
            Teologi ialah suatu bidang disiplin ilmu yang membicarakan, membahas, menganalisa, dan menafsir bagaimana Allah, dan apa karya-Nya. Seiring dengan itu, kehadiran teologi dari dahulu sampai saat ini banyak mengalami perubahan, perkembangan, konsepsi yang meluas, bahkan termasuk kedalam sisi doktrin ataupun dogmatisnya. Dalam berteologi, disadari bahwa harus ada sesuatu konsep berpikir yang utuh, atau kita sebut sebagai konstruksi pemikiran yang didefinisikan sebagai objek keseluruhan konsep yang terdiri dari bagian-bagian struktur. Dalam memahami sebuah konstruksi biasanya dilakukan sebuah perencanaan terpadu dan pengenalan yang tepat agar mampu mengerti dalam menghayati dari apa yang kita sebut dengan konsepsi, terkhusus dalam hal ini yakni teologi sebagai bidang ilmu yang kini sedang kita bicarakan. Berikut akan kami paparkan penjelasan tentang bagaimana berteologi pada masa Rasul lewat refrensi yang kami diskusikan bersama. Besar harapan kami sajian ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
II.        Pembahasan
            2.1.      Bagaimana Cara Berteologi?
Dari sini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya berteologi itu tidak mudah. Bukan hanya asal berbicara saja, lantas dibilang berteologi! Definisi berteologi adalah bahasa Gereja tentang Allah untuk menguji dan mencapai kemurnian serta kesetiaannya kepada Firman Allah di tengah-tengah bahasa, pikiran dan konteks budaya yang berubah. Jadi, tujuan berteologi ialah untuk menguji dan mencapai apa yang disebut kemurnian hati dan kesetiaan Gereja dan kepada firman Allah. Selain itu, harus disadari pula bahwa teologi memiliki sifat yaitu pengetahuan yang adikodrati dan dibangun berdasarkan penyataan/ Firman Allah. Maka teologi yang sejati haruslah teologi dari Alkitab, bukan teologi tentang Alkitab, apalagi teologi di luar Alkitab.[1]
2.2       Tujuan Berteologi
Setiap perubahan arah dalam teologi harus dinilai berdasarkan amanat. Dalam hal itu, teologi  seharusnya bertujuan memuliakan Allah. Misalnya, ketetapan Allah dalam Shema[2] (Ul. 6:4-9) berlaku pula bagi para filsuf dan teolog, yaitu kita harus mengasihi Tuhan Allah dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan. Tugas para teolog dalam membentuk mental umat dapat kita bandingkan dengan tugas setiap kepala keluarga Israel dalam mendidik anak mereka. Dalam hal itu, para teolog bertugas membentuk kaum Kristen untuk tidak ikut-ikutan pada agenda sekuler, tetapi bergantung kepada Allah dalam seluruh hidupnya.
Namun, kegiatan teologis kini sudah jauh dari tujuan yang sebenarnya. Yang direnungkan kini bukan lagi sabda Allah, melainkan pemikiran para “Bapak” atau tokoh. Padahal, kebanyakan “Bapak” atau tokoh tersebut tergolong humanis, bukan teis. Situasi itu sangat merugikan Gereja karena gereja memerlukan penjelasan murni teologis yang tepat dan benar. Dalam hal itu, apa pun yang berdasarkan humanisme tidak memiliki metafisika ataupun epistomologi yang tepat. Dengan demikian, “teolog-teolog sumbang” itu tidak akan sanggup memberikan pengarahan yang seharusnya dibutuhkan.[3]
2.3.      Pengertian Teologi dan Pemahamannya
Dalam gereja Kristen, teologi mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah, kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran dan praktik Kristen. Dalam upaya merumuskan apa itu ilmu teologi, maka ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan, yaitu tidak akan ada teologi Kristen tanpa keyakinan bahwa Allah bertindak atau berfirman secara khusus dalam Yesus Kristus yang menggenapi perjanjian dengan umat Israel. Kata 'teologi' berasal dari bahasa Yunani koine, tetapi lambat laun memperoleh makna yang baru ketika kata itu diambil dalam bentuk Yunani maupun Latinnya oleh para penulis Kristen. Karena itu, penggunaan kata ini, khususnya di Barat, mempunyai latar belakang Kristen. Namun, pada masa kini istilah tersebut dapat digunakan untuk wacana yang berdasarkan nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di lingkungan agama Kristen sendiri, disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya.[4]
Istilah “teologi” atau Theologia berasal dari bahasa Yunani yang arti katanya ialah ilmu (logos) tentang Allah (Theos). Menurut makna etimologis, arti teologi bisa sempit dan bisa luas. Secara sempit, teologi bararti “ajaran tentang Allah”; sedangkan secara luas, teologi berarti “keseluruhan ajaran kristen”.
Namun untuk memahami lebih dalam apa yang dimaksud dengan istilah Teologi dalam lingkungan Kristen, makna etimologis tidaklah cukup. Di sinilah muncul dua kesalahan: (1) hanya menekankan bahasa/ ilmu (logos)-nya saja dan (2) hanya menekankan pernyataan Allah (Theos)-nya saja. Sementara itu yang benar adalah bahasa dan pernyataan Allah harus ditekankan serentak: TEOLOGI! Kurang atau lebih dari itu adalah keliru! Sebab jika hanya menekankan (logos)-nya saja maka kita dapat terjebak untuk menempatkan “konteks” (baca: kebudayaan) di atas teks (baca: penyataan Allah/Alkitab) dan menekankan imanensi[5] Allah saja. Sebaliknya, jika hanya menekankan (Theos)-nya saja maka kita dapat terjebak untuk menempatkan “teks”  di luar konteks dan menekankan transendensi[6] Allah saja. Padahal yang benar ialah bahwa Allah itu transenden (baca: berinkarnasi/menjadi manusia di dalam Yesus). Hal itu berarti, teks harus ditempatkan di dalam konteks. Di sinilah letak kepentingan Kontekstualisasi (BENTUK dan bukan isi Injil yang disesuaikan dengan konteks pendengar).[7] Pada dasarnya, terang ilahi didalam Alkitab menyoroti hakikat manusia dan situasi yang dihadapinya. Terang ilahi tersebut memperkenalkan kita kepada sang pencipta, dan memberikan pengertian tentang karya Allah sebagai penyelamat. Manusia diperkenalkan kepada Allah dan kepada dirinya sendiri. Teologi yang berbobot merupakan dasar dari pembaruan mental yang memungkinkan umat Allah melewati liku-liku kehidupan di dunia yang abnormal ini.[8]
            2.4.      Sejarah singkat Perkembangan Teologi Kristen
Banyak tokoh gereja yang mula-mula adalah seorang filsuf, yaitu mereka yang menemukan kebenaran yang didambakan dalam Yesus Kristus setelah menempuh jalan pemikiran yang berliku-liku. Karya Yesus adalah terminal perenungan filsafat mereka, mereka menganggap dirinya seorang filsafat. Pada awal abad ke-4 dua tokoh gereja yang bernama Agustinus dan Anselmus tidak membedakan filsafat dengan Teologi. Pendapat mereka dapat dibenarkan karena pada dasarnya, Teologi memikirkan ke-Tuhanan berdasarkan sistematika dan logika berpikir yang biasa dilakukan dalam filsafat. Dalam hal itu, kedua bidang itu memakai pola pikir yang sama sekalipun atas sumber yang berbeda. Pada abad ke-20, Herman Dooyeweerd mengemukakan pertalian yang lebih erat lagi. Ia memakai pendekatan filosofis, tetapi ia menyimpulkan bahwa tidak mungkin sesuatu disimpulkan sampai tuntas, kecuali atas dasar firman Allah. Alasannya adalah bahwa tidak seorangpun dapat dimengerti manusia seutuhnya, kecuali berdasarkan suatu “motif religius”. Alasan yang kedua, dari semua motif agamawi yang dapat dipakai, hanya Alkitab yang terbebas dari dualisme. Oleh sebab itu, hanya Alkitab yang mampu memberi simpulan yang tuntas dan mutlak.[9]
2.5.      Apa dan Siapakah Rasul
Rasul dalam bahasa Yunani ialah Apostolos, yang berarti orang yang diutus dan menyandang wibawa pengutusnya. Dalam PB, rasul-rasul menyaksikan pesan Yesus dan melanjutkan pekerjaan-Nya. Keduabelas murid dalam Injil-injil disebut ‘rasul-rasul’ oleh Lukas (6:13; 22:14 ; Kis.1:2), agaknya juga oleh Paulus (1 Kor. 5:7), dan hanya sekali masing-masing oleh Matius dan Markus (Mat.10:2 ; Mrk. 6:30). Meskipun nama-namnya sedikit berbeda-beda, jumlahnya selalu 12, menandakan bahwa mereka adalah para pemimpin yang terpilih, berkaitan dengan keduabelas suku Israel.
Disamping itu, dalam Efesus 4, Paulus membahas beberapa golongan tenaga ahli (rohaniwan) yang disediakan oleh Allah demi keperluan gereja yaitu hanya ada empat golongan, salah satu diantaranya ialah rasul. Sebagaimana dijelaskan, rasul bertugas untuk melayani diluar jemaat, yaitu mengungkapkan berita Injil dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh bangsa-bangsa yang belum mengenal Allah di dalam Yesus. Hasil pelayanan seorang rasul adalah jemaat-jemaat baru.[10]
            Penghianatan kepada Yesus oleh Yudas menyebabkan ada lowongan dalam jumlahnya, sehingga Matius dipilih untuk mengisinya. Kematian rasul-rasul berikutnya tidak menyebabkan lowongan, karena dalam pandangan Lukas rasul-rasul itu unik. Namun, jabatan itu kemudian diperluas, termasuk  Paulus, yang mengaku bahwa gelar kerasulannya didasarkan pada penglihatannya atas Kristus yang telah bangkit (1 Kor. 15:8) dan pengutusannya kepada orang-orang bukan Yahudi. Nama-nama keduabelas rasul itu adalah: Simon Petrus, Yakobus, Yohanes, Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Thomas, Yakobus, Tadeus, Simon orang Kanaan atau Zelotes, dan Yudas Iskariot yang sesudahnya digantikan oleh Matias.[11]
            2.6.      Konstruksi Teologi Para Rasul
Berikut ialah beberapa pandangan dan konsepsi teologi dari Rasul yang mempunyai nama besar, yakni :
a.         Rasul Paulus
            Secara umum diketahui bahwa Paulus hidup di dalam percampuran budaya yang sangat kental. Pada satu sisi ia berasal dari daerah Tarsus  yang sejak pendudukan Alexander Agung sekitar abad ke 4 sM telah didominasi oleh kebudayaan Yunani. Tapi pada sisi lain Paulus dididik dalam keluarga yang sangat kuat memegang adat istiadat Yahudi. Paulus sendiri selalu mengatakan dirinya sebagai bagian dari umat Israel (Lih. Roma 9-11) dan dalam beberapa hal masih menjunjung tinggi warisan ke-Yahudian seperti yang tampak dalam surat-suratnya.[12]
            Teologi Paulus secara hakiki bersifat eskatologis. Pernyataan ini ada benarnya karena di dalam semua surat tulisan Paulus tergambar dengan jelas ide-ide eskatologi itu. Dan uniknya, permasalahan yang dihadapi oleh jemaat selalu dijawab oleh Paulus dengan mengacu pada gagasan eskatologi. Singkatnya, Paulus memperkenalkan gagasan eskatologinya dalam bingkai sejarah dan pengalaman hidup yang sedang dijalani oleh jemaat. Jika dilihat sepintas, surat Galatia, Korintus maupun Roma seakan hanya berisi dogma atau ajaran-ajaran tertentu tentang hukum taurat, pembenaran karena iman, keberadaan di dalam Kristus dan lain sebagainya yang tidak bersangkutan langsung dengan masalah eskatologi. Tetapi sekonyong-konyong Paulus berbalik arah dan pernyataan eskatologinya dimunculkan kembali.[13]
            Misalnya surat 1 Korintus yang mencatat peraturan tentang perkawinan dan hidup selibat sebenarnya secara terselubung juga mencetuskan gagasan eskatologi. Dengan pertimbangan bahwa “..waktu yang ada sekarang ini sangat singkat” dan pemikiran bahwa “dunia yang kita kenal sekarang akan berlalu..” (1 Kor. 7:26, 31), Paulus menasihati agar semua orang tetap hidup dalam keadaan semula seperti ketika Tuhan memanggil mereka (1 Kor. 7:17). Orang percaya diingatkan bahwa mereka adalah “….generasi yang hidup pada waktu jaman akhir telah tiba” (1 Kor. 10:11). Kelak akan datang suatu jaman baru dan setiap orang akan berhadapan dengan tahta pengadilan Allah di mana segala sesuatunya akan diuji oleh api (1 Kor. 3:13-15). Oleh karena itu orang percaya diminta untuk memberi perhatian pada masalah-masalah rohani yang dalam hal ini menyangkut pengekangan terhadap keinginan daging. Menurut Paulus hawa nafsu itu bisa dikendalikan melalui lembaga perkawinan.
            Gagasan eskatologi juga diekspresikan dalam surat Roma ketika Paulus menggambarkan bahwa “…semua ciptaan menantikan saat di mana anak-anak Allah dinyatakan” (Roma 8:19). Ia juga menegaskan bahwa keselamatan itu sudah lebih dekat daripada waktu dia dan orang-orang sejamannnya mengaku percaya kepada Kristus (Roma 13:12), yakni saat di mana “..keadaan siang yang menggantikan malam kini telah tiba”. Dengan demikian Allah akan segera menghancurkan setan di bawah telapak kaki orang percaya (Roma 16:20). Jadi, konsep keselamatan dihubungkan dengan peristiwa pembinasaan terhadap kuasa kegelapan.
            Dari sini jelas bahwa dalam seluruh pemberitaannya, Paulus berdiri sebagai penerus gagasan eskatologi. Ia menindaklanjuti ide-ide yang berasal dari PL, Apokaliptik dan Yesus. Tetapi Paulus tidak mengambil gagasan itu dengan seenaknya sebab ia mengolahnya lebih lanjut sehingga dapat dimengerti oleh jemaat yang kepadanya surat itu dikirimkan.[14]
            Ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari gagasan eskatologi Paulus, antara lain :
1. Pemahaman Paulus tentang eskatologi selalu dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi oleh jemaat. Dengan kata lain, Paulus membungkus gagasannya di dalam konteks pemikiran jemaat tertentu.
2. Gagasan eskatologi Paulus tidak berdiri sendiri, artinya ia mengambil alih dan mengolah pemikiran-pemikiran yang berkembang di jamannya maupun pada jaman sebelumnya. Oleh karena itu tidak ada gagasan yang murni sebagai pikiran Paulus.
3. Gagasan eskatologi Paulus berfokus pada diri dan peristiwa yang melingkupi kehidupan Yesus. Jadi, suatu eskatologi yang bersifat Kristologis. Dengan gagasan utama pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, maka Paulus tampil sebagai teolog yang membangun teologi yang Kristosentris. Berdasarkan semua pemikiran itu, Paulus menyatakan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus, keselamatan dan Kerajaan Allah sudah dialami oleh orang percaya. Hal ini memberi keyakinan kepada orang percaya bahwa tidak ada satupun masalah yang menakutkan mereka. Bahkan kematianpun bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan karena :”..tidak ada satupun kuasa yang bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan”
4. Setiap orang yang mati di dalam Kristus, walaupun belum mengalami Parousia Yesus, telah mengalami kebangkitan bersama dengan Kristus, berpartisipasi di dalamnya karena adanya kebangkitan Yesus.
5. Dalam perkembangan selanjutnya, gagasan eskatologi Paulus mengalami perkembangan dan perubahan makna. Artinya konteks eskatologi yang sebenarnya menawarkan suatu penghiburan dan ketentraman di hati orang percaya telah dipersempit. Ia hanya diartikan sebagai ide yang berbicara tentang akhir dunia dan cenderung menakutkan. Peristiwa kedatangan Tuhan bermakna penghukuman saja dan diperhitungkan menurut pertimbangan manusia. Padahal kedatangan-Nya juga membawa keselamatan dan masalah waktu kedatangan-Nya tidak perlu diukur karena tidak ada yang mengetahuinya, kecuali “…Bapa di Surga”.[15]
            b.         Rasul Petrus
            Rasul Petrus adalah putra dari Yunus (Mat. 16:17) atau Yohanes (Yoh. 1:42), dan saudara dari Andreas (Yoh.1:40). Ia berasal dari Betsaida (Yoh.1:44) tetapi kemudian pindah ke Kapernaum (Mrk. 1:21,29). Petrus tadinya bekerja sebagai seorang nelayan (Luk.5:1-11). Pada awal pelayanannya, Yesus memanggil Petrus untuk diselamatkan (Yoh.1:42), dan sekitar setahun kemudian Ia memanggilnya untuk menjadi seorang rasul (Mat. 10:1-2). Sebagai salah seorang dari Kedua Belas Rasul, Petrus diberikan otoritas kerasulan untuk melakukan berbagai mujijat, untuk meneguhkan berita Mesianik. Petrus juga merupakan salah satu dari tiga orang pilihan, bersama Yakobus dan Yohanes. (Mat.17:1). Petrus adalah “sokoguru Jemaat” (Gal.2:9) dan kemudian menjadi pemimpin gereja. Petrus juga merupakan Rasul bagi orang Yahudi yang juga tercermin dari pembicaraannya dan dalam suratnya yang pertama (1Pet.1:1). Salah satu tradisi mengusulkan bahwa Petrus pada akhirnya pergi ke Roma, tetapi hal itu tidak pasti.[16]
            Teologi Petrus jelas sekali berpusat pada Kristus dan dalam penekanannya, ia membahas secara mendalam doktrin-doktrin penting yang berkaitan dengan Pribadi Kristus. Ia menyatakan ketidakberdosaan Kristus, korban perdamaian Kristus sebagai substitusi, kebangkitan-Nya dan kemulian-Nya. Petrus banyak sekali berbicara tentang penderitaan, Kristus yang direndahkan dan penolakan akan Kristus.[17]
            c.         Yohanes
                Sumber untuk studi teologi Yohanes, adalah Injil Yohanes, ketiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Meskipun ada pendekatan lain sebagai alternatif untuk mempelajari teologi Yohanes, namun studi ini akan digabungkan dengan pengajaran Yesus yang dicatat di Injil Yohanes demikian pula tulisan Yohanes sendiri secara khusus. Diasumsikan bahwa pengajaran Tuhan yang dicatat oleh Yohanes dapat dipertimbangkan sebagai teologi Yohanes karena Yohanes mencatat pernyataan Yesus, dengan anggapan semua itu bagian dari suatu penekanan yang penting dari Yohanes.[18]
            Teologi Yohanes berpusat pada Pribadi Kristus dan wahyu Allah yang diberikan melaui kedatangan Yesus Kristus. Pribadi yang bersama Allah sejak kekekalan sekarang menjadi manusia, dan Yohanes memberitakan kemuliaan-Nya. Wahyu tentang terang inilah yang dijabarkan Yohanes dalam Injilnya, surat-suratnya dan kitab Wahyu. Yohanes memberikan sebuah ringkasan dari teologinya di pendahuluan injilnya (Yoh. 1:1-18), dimana didalamnya ia menjabarkan wahyu tentang hidup dan terang melaui Sang Putra dan juga menjabarkan dosa yang menggelapi dunia dan menolak terang itu.[19]
            d. Matius
            Matius ialah seorang diantara duabelas rasul (Mrk. 3:18) yang dipanggil mengikut Yesus pada waktu ia duduk dirumah cukai (Mat. 9:9). Penekanan teologi oleh Matius dalam Injil Matius menjadi kesayangan Gereja, karena paling banyak dibaca. Namun, alasan yang lebih tegas ialah karena Matius dianggap sangat menekankan hal-hal pastoral dan pengajaran lebih daripada sekadar teologis.[20] Matius menangkap pengharapan Mesianik dan ekspektasi orang Yahudi. Ia memberikan petunjuk kepada pembacanya bahwa manusia sejati, Anak Daud, benar telah datang. Sementara penulis lain meyajikan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, maka Matius yang menyajikan Dia untuk orang Yahudi. Tujuan Injil Matius ada dua segi, yakni (1) Membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias, (2) Menyajikan kerajaan sesuai dengan rencana Allah.
            Matius dikenal sebagai salah satu dari 12 murid Yesus yang terkenal. Sebagai murid Yesus, ia tentu saja akan terbiasa atau setidaknya tidak akan sembarangan menggunakan Perjanjian Lama. Matius ingin membuktikan kepada orang Yahudi bahwa Yesus Kristus itu Mesias yang dijanjikan. Berbeda dengan Injil lainnya, Matius mengutip nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama untuk menyatakan Yesus sebagai penggenapan nubuat para nabi Yahudi.  Matius menggambarkan secara detil silsilah turun-temurun dari Daud sampai kepada Yesus. Ia menggunakan tata bahasa dan istilah yang dipahami oleh orang Yahudi. Kasih dan keprihatinan Matius pada kaumnya sendiri bisa kita lihat secara jelas dari cara ia mengisahkan.[21]
III.       Kesimpulan
            Berteologi bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan teologi yang sejati harus dipahami sebagai keutuhan yang tepat, yakni yang berada didalam Alkitab, bukan membicarakan tentang Alkitab atau bahkan diluar Alkitab. Teologi juga merupakan sebuah kemurnian hati dan jawaban kesetiaan kepada Tuhan.
            Teologi mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah, kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran dan praktik Kristen. Dalam upaya merumuskan apa itu ilmu teologi, maka ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan, yaitu tidak akan ada teologi Kristen tanpa keyakinan bahwa Allah bertindak atau berfirman secara khusus dalam Yesus Kristus yang menggenapi perjanjian dengan umat Israel. Namun perlu disadari, bahwa kewibawaan para rasul yang telah melanjutkan Kabar Baik adalah sebuah pencapaian yang patut diakui. Struktur dan konstruksi yang ada pada setiap Rasul memang terkesan berbeda-beda, namun pada dasarnya apa yang mereka alami ialah bagian dari sebuah pemikiran mereka yang dihayati lewat pengenalan akan Yesus Kristus.
IV.       Daftar Pustaka
            Sumber Buku:
            Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015)
            Drewes, B.F., Julianus Mojau, Apa itu Teologi?, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003)
            Heath, W. Stanley, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005)
            Hunter, A.M., Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002)
            Indra, Ichwei G., Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010)
            Jacobs, Tom, Paulus : Hidup, Karya dan Teologinya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992)
            Ziesler, John, Pauline Christianity, (Oxford :  Oxford University Press, 1990)
            Sumber Internet:
            https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_62.html diakses pada tanggal 11 Februari 2017, pukul 14.35 WIB
            https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_66.html diakses pada tanggal 11 Februari 2017, pukul 14.48 WIB
            https://www.gotquestions.org/Indonesia/kitab-injil-Matius.html diakses pada tanggal 13 Februari 2017 pukul 08.22 WIB







[1] Ichwei G. Indra, Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010), 10
                [2] Shema Yisrael (atau Sh'ma Yisroel atau Shema) (bahasa Ibrani: שְׁמַע יִשְׂרָאֵל; "Dengarlah, hai orang Israel!") adalah dua kata pertama dari sebuah juz/ayat dari Taurat yang digunakan sebagai bagian utama dari Doa Yahudi malam dan pagi, Shema Yisrael dipandang sebagai doa yang paling penting di dalam agama Yahudi dan penyebutannya dua kali dalam sehari adalah sebuah mitzvah (perintah rohani). Inti utama dalam ayat tersebut adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati, kekuatan serta hadiah yang muncul atas perbuatan itu.
[3] W. Stanley Heath, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 29-30
                [4] B.F. Drewes, Julianus Mojau, Apa itu Teologi?, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 16-17
                [5] Imanen atau imanensi adalah paham yang menekankan berpikir dengan diri sendiri atau subjektif.
                [6] Transenden (Inggris: transcendent; Latin: transcendere) merupakan cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta
[7] Ichwei G. Indra, Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010), 9-10
[8] W. Stanley Heath, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 29
[9] W. Stanley Heath, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 13-14
                [10] W. Stanley Heath, Pelurusan Teologi Akhir Zaman, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 31
[11] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: Bpk GM, 2015), 380-381
                [12] John Ziesler, Pauline Christianity, (Oxford :  Oxford University Press, 1990), 8-17
                [13] Tom Jacobs, Paulus : Hidup, Karya dan Teologinya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), 247
                [14] Tom Jacobs, Paulus : Hidup, Karya dan Teologinya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), 248
                [15] Tom Jacobs, Paulus : Hidup, Karya dan Teologinya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), 250
                [16] A.M. Hunter, Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 109
                [17] https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_62.html diakses pada tanggal 11 Februari 2017, pukul 14.35 WIB
                [18] A.M. Hunter, Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 124-125
                [19] https://joelbenyamin.blogspot.co.id/p/blog-page_66.html diakses pada tanggal 11 Februari 2017, pukul 14.48 WIB
                [20] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: Bpk GM, 2015), 258-259
                [21] https://www.gotquestions.org/Indonesia/kitab-injil-Matius.html diakses pada tanggal 13 Februari 2017 pukul 08.22 WIB